TV PAMSWAKARSA

Nikita, Firza, Rizieq, dan Brutus

29Views



Tidak Ada Nama Brutus, Tapi Ia Ada

Saya selektif mengunggah foto di Facebook. Namun, Nikita Mirzani sudah nampang di FB saya. Sudah sejak jauuuh hari masuk ke dalam alam kesadaran politik saya.

Duet Nikita-Firza menghantam Rizieq, dan Nikita Mirzani menjuluki Rizieq Shihab sebagai tukang obat, saat itu hantaman terhadap ketidaktegasan aparat menemui titik kulminasi.

Berkoar para netizen pembela NKRI bermohon Jokowi tegas. Sebagian membela merajalelanya Rizieq yang pamer kekuatan sebagai strategi catur Jokowi. Rizieq makin menjadi-jadi.

Namun, senyatanya serangan top Nikita-Firza, berhasil memasukkan Rizieq dan FPI dalam jebakan Batman. Bahkan aparat yang tidak punya nyali kalah set. Kalah momentum.

Jokowi pun bertindak sederhana. Dia panggil Panglima TNI, kepala BIN, Menkopolhukam dan Kapolri. Pembicaraan Jokowi sederhana. Apakah kalian tidak malu dengan Nikita Mirzani? Padahal informasi ke saya seabrek bagus. Namun tidak ada tindakan. Nol besar. No sense of urgency. Kagetlah mereka.

Jokowi pun tahu video penghinaan Rizieq kepada TNI/Polri. Juga dirinya bersama Bu Mega yang didoakan umur pendek. Pun pembiaran pelanggaran gila-gilaan pasang tenda di jalanan Petamburan. Rizieq menutup jalanan hasil kerjasama kadal gurun, Anies Baswedan, pendana Cendana dan Cikeas.

Proxy lainnya seperti Jusuf Kalla tentu membela Rizieq, karena JK pernah mengundang provokator gila buronan Zakir Naik. Lebih gila lagi pembagian 20.000 masker di Petamburan untuk mendukung Rizieq menggelar acara. Kegilaan pelanggaran PSBB yang memang sengaja dilakukan Rizieq, Anis, dan para proxy perusak negeri.

Melihat peta demikian itu, makin mengerikan bagi rakyat. Menteri Agama diam. Mendagri diam. Kapolda diam. Pangdam diam. Teori jebakan Batman salah kaprah diterapkan. NKRI tak bertuan. Jokowi dianggap lembek. Netizen dan relawan pendukung Jokowi menuntut ketegasan Jokowi.

Hasilnya? Lalu mutasi di TNI dan Polri. Bahkan akan ada reshuffle kabinet. Apakah penegakan hukum akan berlangsung Rizieq Shihab, Anis, Doni Monardo, Ridwan Kamil? Tidak. Kenapa?

Awal gurita Rizieq berpangkal pada Pamswakarsa-nya Wiranto. Dan, Wiranto sudah tidak di sana. Djayusman juga sudah out. Soal Sjafri Sjam dan Cendana ya itu urusan lain.

Bahayanya? Ini penting. Rizieq Shihab ini dijadikan simbol pembangkangan sipil. Untuk level gubernur diwakili Anies Baswedan. Pembangkangan sipil terjadi. Chaos. Jokowi jatuh.

Lalu kenapa selama dua pekan semua kekuatan Istana diam? Karena bias laporan. Dikira susupan radikalisme ke dalam TNI/Polri sudah mendalam. Karena dalam teori chaos yang para teroris kuasai, garda terakhir revolusi adalah militer.

Lalu, TNI/Polri menunggu. Panglima TNI lambat. Bahkan sekelas Doni Monardo pun gamang. Erick Thohir walau dekat Jokowi-Mega nggak usah dibahas. Erick lembek dan hanya proxy, dekat dengan Jusuf Kalla.

Rizieq kuasai panggung chaos karena dia membaca situasi persaingan internal aparat dan lembaga, termasuk BUMN, dan Kabinet. Carut-marut akibat sistem dan strategi komunikasi dan koordinasi berantakan. Dia menangkapnya sebagai momentum. Termasuk anggota TNI mengelukan Rizieq – menunjukkan sikap partisan prajurit yang berbahaya. TNI tegas menindak. Top.

Dapat angin, maka berkoar Rizieq tanpa batas. Makian. Cacian. Itu revolusi akhlak karim yang dia tunjukkan. Padahal istilah revolusi akhlak adalah jebakan yang dimakan Rizieq, setelah diancam Mahfud MD tentang revolusi adalah makar. Ngeles FPI bahwa revolusi Rizieq adalah revolusi akhlak yang justru menjerumuskan FPI.

Melihat hal itu. Jokowi telah bertindak. Sementara FPI tengah melakukan konsolidasi strategi. Kini momentum ada di TNI-Polri, Kejaksaan, dan KPK. Pangdam Jaya, Mabes Polri, BIN, dan Polda Metro Jaya sedang bekerja. Beranikah?

Akan ada gerakan tiga jalur untuk menghantam Rizieq, Anies dan proxy radikal. Bahkan political alienation atas Ridwan Kamil dan Menteri yang berkinerja buruk. Termasuk assessment memandang proxy Jusuf Kalla jadi pertimbangan.

Maka, Kapolda Metro Fadil Imran dan Pangdam Jaya tentu akan tegas menindak. Karena jika momentum hilang, Rizieq, Anies, Jusuf Kalla dan proxy-nya akan membesar. Chaos bisa terjadi. Bukan hanya jabatan copot, negeri ini akan dibakar oleh kebencian.

#NinoyKarundeng
#IndonesiaHariIni

Sumber Berita

redaksi
the authorredaksi

Tinggalkan Balasan